This is an Indonesian translation for two stories by Ryan Koyanagi. I found them lying in the depths of my computer, dated 23 January 2017, while I was digging around for short stories I wrote that I can compile into a collection. Koyanagi hasn't been seen for years and I've never talked with him directly, but I'd be lying if he wasn't one of my biggest inspiration. It's funny. How your biggest inspiration can be just a rando on the internet.
The original stories are here: A Doodle about Chinese Characters and Charlie.
Coretan tentang Huruf-Huruf Cina
Karya Ryan Koyanagi, diterjemahkan Aliya N. Anindita
Aku dilahirkan di bawah atap merah Phuoc Loc Tho dan Plaza TK. Aku menghabiskan musim panasku berteduh di bawah Jembatan Sut Yat Sen dengan puntung rokok di pinggir mulutku dan dadu buluk di tanganku. Musim dinginku dihangatkan pho dan bibimbap, dari toko kecil yang terasnya didekorasi meja yang kusam dan cangkir teh oolong yang tak ada habisnya. Malam-malamnya kuhabiskan bermain biliard dan menyanyi karaoke di Boulevard Garden Grove, hingga, penuh dengan sake dan sochu, aku terduduk di pinggir teras dan menatapi, sambil setengah terbelalak, huruf-huruf Cina yang tak bisa kubaca, tertulis dalam neon. Aku seperti bisa mendengar nenek moyangku memanggil dalam bahasa yang hampir tak kukenal, yang hanya bisa kuucapkan dengan disisipi bahasa Inggris dan keraguan.
Charlie
Karya Ryan Koyanagi, diterjemahkan Aliya N. Anindita
Kita semua hanya bocah bermain peran.
Aku bocah yang berperan sebagai pembunuh bayaran hari ini. Bocah-bocah lainnya, mereka menjadi polisi. Tangan di dalam saku, meraba-raba pistol mereka yang membuat mereka merasa besar. Menenangkan mereka. Jimat pelindung di dalam sabuk.
Pada akhirnya hanya itu yang berarti: memakai kostum yang cocok, membawa dekorasi yang benar. Kalau kamu belari-lari dengan pakaian jalanan, kamu preman, pembegal. Pakai setelan sembilan puluh dollar yang kau beli di mall, dan tiba-tiba kamu menjadi mobster, mafia, paisano.
Ujung-ujugnya, kamu hanya bermain Polisi dan Pencuri, Koboi dan Indian, Preman dan Mafiosi.
Aturan tiga kali. Ucapkan acap kali, dan kamu akan percaya dengan ucapanmu sendiri.
Lihat dirimu sendiri di cermin: jaket dan dasi dan penutup bahu. Katakan pada dirimu sendiri, "Gua mantap." Ulangi, ulangi, ulangi terus sampai tertempel di otakmu. Mainkan peranmu, berdiri dengan dada tegap, satu tangan di pistolmu, satu di kelakianmu.
Ulangi barisan kata yang kau dengar dari semua orang yang bermain peran sebagai preman. "Apa lu lihat-lihat? Emang gua apa, bangsat? Pergi sana."
Tapi pada akhirnya kamu tak mengerti secuilpun tentang apa yang kamu lakukan. Aku juga tidak. Satu-satunya yang membedakanmu dan aku adalah aku sadar tentang hal itu. Coba periksa, selidiki, buka semua kantongku. Aku tidak membawa pistol karena tahu aku tak membutuhkannya, dan kalapun punya, tak akan tahu bagaimana memakainya.
Intinya hanya ini: ketika kamu mengotakkan dirimu dalam peran yang kau bayangkan, kamu terkekang dalam batasannya. Kamu mengekang dirimu dalam pistol dan setelan, dalam peran itu, arketipe itu, naskah kecil yang kau buat di kepalamu berdasarkan bayang-bayangmu tentang kehidupan seorang preman.
Kamu tidak berpikir dua kali ketika kita berbasa basi tentang cangkir kopi di mejamu. Aku dulu kerja di kafe, loh. Boleh kucoba kopinya?
Kamu mungkin agak terusik dengan caraku memegangnya, tentu. Siapa yang memegang cangkir kopi dengan satu jari di atas pegangannya, dan satu jari di bawah? Biar lebih terasa hangatnya, kataku, dan kau mengabaikannya. Ya, pikiran itu terlewat di pikiranmu, tapi kamu punya pistol, toh. Ada orang yang menyerangmu dengan cangkir kopi? Emang dia kira lu siapa? Kampret.
Tetapi, dengar ini, seberapapun kuatnya tubuh manusia menahan sampah-sampah yang dilempari kehidupan padanya, selalu ada titik lemahnya. Kalau kamu tidak mengantisipasinya, aku tidak peduli apa kamu veteran, apa kamu pernah memanjat Everest atau lari maraton. Semua itu tidak ada artinya. Cangkir kopi yang tiba-tiba ditampar ke wajamu tetap akan memberimu memar. Tonjokkan ke dua gigi sarimu tetap akan menghempaskannya ke dalam tenggorokanmu. Dan pemberat kertas, stapler, dan arloji meja semuanya sama kerasnya jika mereka melesat ke mukamu dengan kecepatan delapan meter per detik.
Kita semua hanya bocah bermain peran, tapi ini caraku mencari penghidupan. Dan aku bisa lebih efisien berpura-pura membunuhmu daripada kamu berpura-pura jadi jagoan. Dan pada akhirnya hanya itu yang penting.