Originally posted in my WordPress blog

This is my notes and comments for my Indonesian translation of His Master's Voice.


Catatan Penerjemah

Gaya menulis Hannu Rajaniemi ini lumayan unik. Pertama, dia saking Hard SF-nya, udah seperti novel fantasi yang gak kira-kira melempar istilah sihir sana sini. Ini lalu diliput dengan gaya narasi yang seakan ngebut, saling menyambungkan kejadian dan situasi tanpa jeda. Pertama kali ku membaca cerita ini seperti pertama membaca The Quantum Thief, seperti disambar petir terus-terusan, tapi di antaranya sambaran semua istilah baru dan bangun-dunianya yang bukan main, inti ceritanya masih ketangkep.

Ketika dibaca lagi sambil diterjemahkan, baru terasa kalau semuanya itu rapi, perlahan, nggak ngebut sama sekali. Aku bisa mengerti (hampir) setiap kalimat, menangkap maksud (hampir) setiap pilihan kata. Istilah furutistis yang dipakainya juga nggak sebegitu banyak. Di awal-awal agak sulit menemukan suara yang cocok untuk menerjemahkannya, tapi lama kelamaan jadi mengalir.

Terjemahan ini kumulai cek metadata file astaga, Maret 2019. Kukerjakan sedikit demi sedikit, lalu kulupakan, lalu kukerjakan lagi, hingga selesai di September 2019. Pengerjaan kedua lebih lancar daripada yang pertama, tapi ketika melihat hasil kerjaku yang dari berbulan-bulan yang lalu itu, aku lumayan salut dengan beberapa pilihannya?

Jadi banyak istilah sains/teknologi di sini, tapi ternyata gak sesulit itu menemukan padanan atau alternatifnya dalam bahasa Indonesia. Beberapa sudah jelas: download itu mengunduh, hardware itu perangkat keras, quantum ya kuantum. Lalu beberapa lagi harus berpikir kreatif: gauss launcher kujadikan pistol elektromagnetik, micronuke menjadi bom mikro, fleshbodies atau fleshed bodies menjadi tubuh berdarah-daging. Nanospun sapphire menjadi nanountaian safir. Beberapa kubiarkan begitu saja: moravec (ok ini aku tbh gak tahu apa), nanofab (apakah harus kujadikan pabrik nano? eh), dan WIPO (World Intellectual Property Organization). Mereka kedengaran kayak kata yang bisa diserap ke bahasa Indonesia-di-masa-depan, jadi males kuterjemahin zzz.

Jadi kata bahasa Inggris yang tidak tersentuh hanya firewall, make-up, dan furry. Firewall dan furry saya rasa istilah tetap dan juga sudah tidak asing untuk orang Indonesia? Make-up mungkin bisa dijadikan "bersolek", tapi karena katanya juga sudah umum, rasanya susah amat kalau mesti dijadiin "bersolek" untuk kegiatan yang kasual aja; otaknya mesti dua kali mikir entar.

Lalu ada nunatak, yang kubaru tahu ini sebenarnya udah diserap ke bahasa Inggris dari bahasa Greenalnd? Tapi karena terlalu keistilahan, kubiarkan saja. Dan ada daikaijuu. Ini bahasa Jepang artinya monster besar, macem godzilla gitu. Di teks aslinya sebenarnya typo jadi daikaju. Mungkin editornya bukan wibu, haha.

Ok, hal yang paling menarik adalah terjemahan "master" dan "god". Aku memakai "tuhan" untuk terjemahan "god", bukan "dewa", karena bahasa Indonesia kita ini sudah diberkati dengan kemiripan antara kata "tuan" dan "tuhan"; kemiripan ini membuat koneksi yang bahkan lebih kuat daripada di teks aslinya!! Tapi "tuhan" yang kupakai dengan huruf kecil t: dalam berbagai hal, si karakter utama tahu kalau tuannya itu bukan Tuhan sesungguhnya, tapi ia tetap suatu tuhan baginya.

Bahasa Inggris bisa bilang "the master". Di bahasa Indonesia harus ada penunjuknya: tuannya, tuan kami, tuan mereka, karena kalau tuan saja rasanya seperti panggilan untuk orangnya langsung. Biasanya kupakai "tuanku" bukan "tuan kami", karena si karakter utama agak bermusuhan dan tidak mau berbagi dengan si kucing. Tapi ada kalanya mereka harus bekerja sama dan lalu ada rasa seberpihak, jadinya si narator menyebutnya "tuan kami".

Ya sepertinya itu saja itu untuk catatan penerjemah kali ini. Terima kasih loh sudah membaca. Sampai nanti!